Doktrin Monroe : Idealisme Politik AS Hingga Perang Dingin



James Monroe Dalam Perang 1812

Perselisihan dan konflik antara Amerika Serikat dan Inggris masih terjadi paska kemerdekaan lebih tepatnya 30 tahun setelah draft deklarasi kemerdekaan Amerika Serikat ditandatangani oleh 56  kongres kontinental dari seluruh negara konfederasi Amerika Serikat. Lebih dalam, peristiwa tersebut terjadi di era pemerintahan Presiden Thomas Jefferson hingga James Madison yang mulai membuka dagang dengan musuhnya Inggris dan Perancis dengan menghapus Non-Intercourse Act dan menggantinya dengan Marcon’s Bill pada tahun 1810,  sebab kala itu Eropa sedang di landa Perang Napoleon. AS melihat adanya peluang ekonomi karena keadaan perang akan mendesak negara di Eropa kala itu mencari pasokan Sumber Daya Alam (SDA) kebutuhan perang.
Terjadilah perselisihan antara kedua negara yang saling berperang tersebut dengan membawa praktik politis, seperti penyanderaan dan perampasan kapal-kapal dagang dari Amerika Serikat, sebab Inggris masih berkeinginan menguasai Amerika Serikat kembali, maupun Perancis yang ingin memperluas ekspansinya, khususnya di Benua Amerika melalui Amerika Serikat. Hal tersebut menimbulkan tendensi yang kompleks terhadap Eropa, hingga Amerika Serikat mendeklarasikan embargo kembali dan perang terhadap Perancis dan Inggris tahun 1812, adapun tujuan lain dari perang ini adalah keinginan Amerika Serikat untuk memperluas wilayah perbatasan yang masih bersengketa dengan Koloni Inggris di Kanada maupun di selatan yang masih dikuasai oleh Spanyol.
Keinginan ekspansi Amerika Serikat dilatarbelakangi oleh James Monroe yang menjabat sebagai Mentri Sekertaris Negara (setara dengan Menteri Luar Negeri) di era Presiden Madison, karena pengalamanya dalam militer dan politik luar negeri dengan menjadi representatif Amerika Serikat untuk Perancis dan Inggris dimasa Thomas Jefferson. Monroe lah yang menggagas ide deklarasi perang terhadap Inggris dan Perancis sebagai respon final terhadap perlakuan Inggris di depan kongres Amerika Serikat tahun 1812, serta merekap dirinya sebagai Sekertaris Perang saat perang berlangsung.
Penganekasasian Florida yang saat itu dikuasai Spanyol pada masa perang kemerdekaan kedua Amerika Serikat, juga digagas oleh Monroe dengan melihat kembali Florida yang ia negosiasikan dalam  pembelian wilayah Lousiana dari pemerintah Spanyol, atau pun saat Florida menjadi bagian wilayah koloni Inggris. Belum lagi ia juga melihat lemahnya situasi politik Spanyol hingga mempengaruhi kekuatan diwilayah jajahanya saat sedang dikuasai Perancis dalam Perang Napoleon. Hal tersebut terlihat adanya negara-negara jajahan Spanyol di Amerika Latin seperti Argentina yang memerdekakan diri, dan melihat dari peluang tersebut penganeksasian daerah Florida berhasil dilakukan secara total dari tahun 1814 sampai tahun 1819.

Doktrin Monroe, Arah Kebijakan Luar Negeri AS dan Era Imperialisme

Pengalaman Monroe dalam diplomasi maupun keterlibatanya dalam perang melawan Eropa setelah kemerdekaan Amerika Serikat saat menjabat sebagai Menteri Sekertaris Negara, membawa pengaruh pada gagasan-gagasan yang tatakala juga berpengaruh pada arah politik luar negeri Amerika Serikat. Baginya, perang dan kemenangan menjadi parimeter dan membawa negara dalam derajat prestise yang tinggi dalam mempengaruhi negara lain melalui Hard Power, terlebih Monroe sendiri memiki pengalaman sebagai tentara kontinental sebelum akhirnya masuk keranah perpolitikan. Nilai demokrasi dan liberalisme sebagai pandangan hidup masyarakat Amerika Serikat yang menciptakan stigma buruk terhadap peguasaan koloni Eropa dari pengalaman pahit penjajahan Inggris di Amerika, juga membawa pengaruh pada politik luar negeri yang dibawa oleh Monroe hingga dirinya menjabat sebagai Presiden pada tahun 1917.
Doktrin Monroe sendiri menjadi statement paling terkenal, dan menjadi salah satu arah penentu politik luar negeri amerika serikat pada tahun 1823. Framing statement tersebut, selain dilandaskan idealisme nilai demokrasi dan kebebasan dalam ideologi negara, secara realita pada saat itu Spanyol yang sudah bangkit dari keterpurukan paska Perang Napoleon berkeinginan kembali untuk kembali menstabilkan negara jajahanya di Amerika Latin, terlebih banyak kaum Creolle memberontak dengan mendirikan negara baru. Baginya Amerika Latin merupakan wilayah jajahan paling strategis bagi perekonomian dan penyumbang devisa terbesar bagi kerajaan, belum lagi keinginan inggris dalam menguasai dagang di Amerika Latin terlihat kuat dari dorongan inggris ke amerika serikat untuk menghentikan langkah spanyol dalam menganeksasi kembali wilayah jajahanya.
Substansi dari Doktrin Monroe terdiri dari empat prinsip dasar yang termuat, yaitu:
1.      Amerika Serikat tidak akan mencampuri masalah internal di Eropa, termasuknya peperangan yang berkenan dengan masalah internal.
2.      Amerika Serikat mengakui dan tidak akan mencampuri urusan yang masih dikuasai koloni Eropa.
3.      Kolonialisasi Eropa lebih lanjut harus dihentikan.
4.      Upaya menekan dan kendali yang dilakukan oleh Eropa di negara baru dipandang sebagai tindakan kekerasan melawan Amerika Serikat.
Kepentingan dagang inggris di amerika latin hanya bersifat menekan ke amerika serikat sebagai negara yang mengakui kemerdekaan negara-negara baru di amerika latin, apa lagi posisi kedua negara ini memiliki kesamaan pengalaman dijajah bangsa Eropa, terlebih tidak ada cara lain karena posisi spanyol sendiri merupakan sekutu kala perang napoleon berkecamuk di eropa. Melihat adanya kepentingan tersebut, Monroe memiliki pandangan berbeda dengan inggris dengan menyatakan wujud geografi politik dibenua amerika sudah berubah menjadi suatu entitas kebangsaan yang baru, walaupun konteks tersebut memberikan dilema terhadap krisis identitas bagi dunia baru tersebut sebagai komunitas yang memiliki rangkap budaya tersendiri atau hanya penerus dari bangsa koloni sebelumnya, terlebih lagi dikarenakan kedudukan kaum kulit putih di amerika serikat dan Creolle yang menjabat di kursi pemerintahan tertinggi, maupun strata tertinggi dalam kelas sosial di amerika latin.

Doktrin Monroe pertama kali ia ungkapkan dalam kongres tahunan amerika serikat tahun 1923, dan mendapat dukungan penuh oleh Menteri Sekertaris Negara yang saat itu dijabat oleh John Quincy Adam dan menjadi acuan dan arah kebijakan luar negeri amerika serikat, untuk menyebarkan paham demokrasi keluar amerika pertama kali, dimulai dari amerika latin, usulan tersebut dilanjutkan dan dirancang oleh kabinet Monroe itu sendiri dalam rencana George Canning’s Plan untuk melindungi kepentingan amerika latin terhadap aggressor dari eropa khususnya inggis . Melihat disintegrasi dan perang kemerdekaan yang terjadi, sebagai tahapan awal yang dilakukan oleh amerika serikat adalah mengakui kemerdekaan negara baru tersebut menjadi negara berdaulat, Menlu Adam sendiri pada tahun tersebut melakukan misi diplomatis dalam membantu advokasi dan hak kemerdekaan dari amerika latin, paska permohonan Caesar Rodney salah satu penandatangan kemerdekaan kepada Monroe dalam membuat komisi investigasi, lanjut misi diplomasi yang dilakukan dengan memberi bantuan keamanan kepada Argentina dan juga tekanan pers dari amerika serikat yang menyerukan kedaulatan negara baru tersebut.

Keberadaan Holy Alliance sebagai kekuatan aliansi baru di Eropa paska perang napoleon juga menjadi tantangan terberat dalam menimbang kekuatan amerika. Holy Aliance sendiri aliansi sekutu yang terdiri dari Tsar Rusia, Prusia maupun Inggris dan memberikan dukungan terhadap spanyol dalam merebut kembali wilayah jajahanya, sebab keberadan spanyol juga merupakan misi ketuhanan misionaris yang selama ini dibawa oleh kerajaan Spanyol melalui penyebaran agama Katolik keseluruh Amerika Latin. Eksisnya kekuatan sekutu akhirnya mendesak kebijakan luar negeri amerika serikat untuk masuk dan terlibat dalam  politik intervensi di negara-negara baru tersebut.
Intervensi yang dilakukan oleh amerika serikat terhitung cukup lama, dan berkembang seiring bergantinya rezim dan pemerintahan. Namun secara politis, pada awalnya amerika serikat  menjalankan Doktrin Monroe secara idealis dengan hanya berambisi mengusir kekuatan eropa di benua amerika. Namun amerika serikat mulai mengintervensi politik dalam negeri amerika latin setelah Presiden James K Polk, dalam pendapatnya tentang hak non intervensi Eropa terhadap wilayah teritori di Benua Amerika, karena Inggris yang masih berkeinginan untuk menguasai wilayah Pantai Barat khususnya Texas pada tahun 1845, pandapat tersebut juga bisa disebut dengan Doktrin Polk yang merupakan lanjutan dari Doktrin Monroe.

Pendapat Polk itulah yang menjadi awal masuknya kepentingan nasional amerika serikat dalam tubuh pemerintahan amerika latin secara intensif, setelahnya amerika latin memiliki beberapa peristiwa penting sebagai bentuk dan implikasi dari Doktrin Polk. Seperti dalam kemerdekaan Kuba dimana amerika serikat sedikit mengubah konstitusi dalam undang-undang dasar, menyebarkan pangkalan militer diseluruh amerika latin dan juga pembangunan yang mengarah pada kepentingan nasional amerika serikat, contoh kecilnya adalah Terusan Panama. Masa-masa ini disebut juga dengan Era Imperialisme yang merupakan output dari dokrin Monroe yang tak lebih dari kepentingan ekonomi belaka, bahkan tercipta interdepedensi yang kuat antara amerika latin dan amerika serikat, seperti pada masa The Great Depression tahun 1930 an yang mana amerika latin terkena imbas paling besar di luar amerika serikat.

Politik penguasaan di amerika latin melalui Doktrin Monroe juga melewati beberapa masa tertentu dengan masalah yang tidak kalah penting. Pada masa Theodore Roosevelt negara amerika latin seperti Venezuela, mengalami masalah krisis ekonomi sebab negara memiliki hutang yang menumpuk dengan negara-negara di Eropa, sehingga kapal perang dari Eropa datang untuk menagih penumpukan hutang tersebut. Dalam menyikapinya Roosevelt berinisiasi untuk membentuk Roosevelt Corallary yang tak lain adalah inisiatif amerika serikat untuk masuk lebih dalam menguasai Amerika Latin sebagai Polisi Amerika agar negara-negara di Amerika Latin bertanggung jawab atas masalah finansialnya. Praktek yang dilakukan adalah menaruh pangkalan-pangkalan militer dengan alasan untuk menghindari ancaman dari luar, terlebih posisi dunia saat itu sedang dilanda kekacauan perang dunia pertama.

Doktrin Monroe Pasca Perang Dunia Kedua

            Doktrin Monroe membawa posisi sulit bagi amerika latin, dalam membawa kepentingan nasionalnya melalui politik luar negeri lebih luas. Posisi Amerika Serikat sebagai negara yang cukup kuat menanamkan intervensi di amerika latin mulai melepaskan diri dan meninggalkan Doktrin Monroe karena ada beberapa sebab, yang pertama adalah perubahan signifikan kondisi ekonomi politik paska perang dunia kedua, membuat Amerika Serikat sebagai pihak yang menang berambisi lebih jauh untuk menyebarkan paham demokrasi keseluruh dunia, apalagi Amerika Serikat kala masuk kedalam perang dingin melihat adanya rival politik bukan lagi berada di amerika latin melainkan Uni Soviet yang juga gencar menyebarkan faham komunisme dunia melawan faham demokrasi liberalis kapitalis Amerika Serikat, tingkat urgensi bagi Amerika membuat pakta pertahanan militer atlantik utara atau biasa di sebut NATO yang cukup tinggi menimbang tingkat kekuatan militer dan sekutu negara dunia kedua yang cukup kuat.

            Kedua, masyarakat amerika latin mulai sadar akan penindasan selama masa imperialisme amerika berlangsung. Banyak terjadi gejolak politik dan revolusi seperti di Kuba dan Bolivia, muncul pula gerakan revolusioner dengan tokoh terkenal seperti Che Guevara, Fidel Castro Hugo Cheves, dan lainya dengan dasar asumsi bahwa apa yang sudah dilakukan amerika merupakan kejahatan para kelompok kapital yang selama ini menindas kaum kelas menengah kebawah, dan juga adaya dilema nilai demokrasi yang selama ini dibawa dalam prinsip Doktrin Monroe. Sebab Amerika Serikat selama ini mendukung pemerintahan yang dipimpin oleh para diktator korup yang sering menjadi masalah bagi perekonomian negara dan membawa negara pada keterpurukan hutang-hutang yang dipinjam dari negara barat.

            Faktor kedua juga menjadi alasan mudahnya masuk faham komunisme di negara-negara amerika latin dan menjadi kesempatan bagi Uni Soviet untuk mencari sekutu disana seperti Kuba yang menjadi lahan paling strategis karena posisi geografisnya tidak berjauhan dari amerika serikat, dan membawa Kuba dalam Krisis Teluk Babi di masa perang dingin. Masuknya faham komunisme di Amerika Latin juga tetap ditentang oleh Amerika Serikat dengan tetap menggunakan Doktrin Monroe sebagai acuan tetap, tetapi alur politik dan peta dunia yang sudah berubah membawa Amerika Serikat tetap mempetimbangkan kekuatan Uni Soviet sebagai lawan yang nyata kala itu sebagai prioritas kebijakan luar negeri semasa perang dingin berlangsung.
           





Bibiliography
Renehan, E. J., 2007, The Monroe Doctrine: The Cornerstone of American Foreign Policy,New York, Chealsea House Publisher.
Biographies of the Secretaries of State: James Monroe (1758–1831) diakses tanggal 22 November 2017, bisa diakses di “https://history.state.gov/departmenthistory/people/monroe-james”
Madison Foreign Affairs diakses tanggal 22 November 2017, bisa diakses di “https://millercenter.org/president/madison/foreign-affairs"
Bowker, Paul., 2009, IBERO-AMERICAN INTERSECTIONS: Constructing (Trans)National Imaginaries in Spain and Latin America, 1898-1938, Auckland, the Thesis of Philosophy in Spanish, The University of Auckland, bisa di akses di “https://researchspace.auckland.ac.nz/bitstream/handle/2292/5684/02whole.pdf?sequence=4

Peranan Doktrin Monroe dalam Politik Luar Negeri Amerika Serikat dan Pengaruhnya Terhadap Amerika Latin, diakses tanggal 23, bisa diakses di “http://indonesiadalamsejarah.blogspot.co.id/2012/05/peranan-doktrin-monroe-politik-luar.html